Generactive!* (GeneratiOnActive)

January 29, 2013

Seorang nelayan di suatu daerah seperti biasa melakukan aktivitasnya: memulai pagi dengan melaut menjaring ikan. Hari-hari yang demikian dilewati sebagai rutinitas sumber nafkah untuk keluarganya. Tidak ada yang beda. Hingga suatu kesempatan dirinya memperhatikan ikan hasil tangkapannya.

Mengapa ikan-ikan baru dibawa dari laut menuju daratan dan dijual di pasar ikan, ikan itu lemas, tidak lagi segar? Berhadapan dengan konsumen yang menggemari ikan sebagai santapan, tentu mereka pintar memilih mana ikan yang segar dan mana tidak. Apalagi si bapak nelayan yang lebih tahu kondisi ikan-ikannya.

Mungkin suhu ruangan kurang dingin. Bagaimana jika kuberi es?

Lantas es menjadi alternatif untuk menjaga kesegaran ikan. Ekspektasinya ruangan tersebut seperti kulkas sehingga kesegaran terjaga. Ternyata realitas berbeda dengan ekspektasi: tetap saja ikan tidak segar lagi ketika sampai di daratan. Es hanya memperlambat saja, bukan menahan kesegaran.

Imajinasi melayang membayangkan ketika ikan masih berada di laut. Ikan-ikan berenang dengan bebas, terlihat segar dan bugar. Cepat meliuk kesana-kemari. Tidak ada perilaku yang menampakkan lemas lagi tidak segar. Apa yang membuatnya berbeda setelah ditangkap?

Mereka ketika masih di laut banyak sekali bergerak”.

Si nelayan mencoba bereksperimen dengan membuat kolam kecil untuk ikan tangkapannya, plus satu tambahan ikan: HIU KECIL

( !0.o)/|

Iya beneran, hiu. Ciyusan. Idenya adalah membuat ikan selalu bergerak karena dikejar oleh hiu, di mana nelayan berekspektasi sesampainya di pelabuhan ikan akan tetap segar karena aksi kejar-kejaran tersebut.
Hasilnya?

Yup! Ikan masih segar ketika dibawa sampai ke daratan hingga dijual ke pasar ikan. Hiunya juga masih segar (apaan sih -,-). Jadi rupanya benar, bahwa dengan menjaga agar ikan tetap bergerak sampai ke daratan, ikan masih seperti saat sebelum dia berada di kolam penampungan.

Apa yang dapat kita ambil bersama dari kisah ini?

Tony Stark dalam Iron Man pernah melontarkan sebuah kalimat: “Pasti ada alasan aku dilahirkan. Mengapa aku hidup”. Ya, pasti ada alasan mengapa kita diciptakan oleh Allah SWT di dunia ini. Kita dilahirkan di dunia ini tidak hanya untuk diam dan merenungi semuanya, sambil berangan-angan besar. Sementara pekerjaan yang kita lakukan adalah nol. Kita tidak bisa terus-menerus berada dalam kekosongan aktivitas, bahkan idealnya tidak satu haripun kita bisa lewatkan kosong begitu saja meskipun aktivitas tersebut ringan.

Pernah ada kisah, seorang ibu baru saja keluar dari rumah sakit. Diceritakan keadaan sebelum masuk dan pada saat berada di rumah sakit, sebenarnya badannya bugar. Beliau hanya ingin memeriksakan organ dalamnya. Sampai empat hari tidak ada layanan cukup berarti dari dokter. Beliau pun mengeluhkan: “Sebelum masuk itu saya badannya segar. Ini sekarang seperti ditelantarkan, malah kepala jadi pening terus”.

Artinya, badan kita diciptakan untuk bergerak, untuk aktif. Bukan untuk diam. Dalam arti, otak kita berjalan untuk memikirkan sesuatu, memecahkan permasalahan. Badan kita juga ada tuntutan untuk berolahraga meskipun hanya 30 menit per hari.

Pernah terbesit betapa kita menginginkan hari yang tenang dan damai, penuh kesenangan tanpa beban, ketika hari reguler kuliah? Tetapi kemudian kita keluhkan hari-hari libur itu dengan kebosanan yang sangat, nglangut. Padahal bukannya itu hari yang kita inginkan bukan? Tanpa beban, bisa tidur-tiduran, mau makan atau minum juga masih enak. Masalah klise.

Tapi coba ingat: “Demi masa, sungguh manusia ada dalam kerugian…” Hingga Allah SWT pun bersumpah atas nama waktu. “…kecuali yang beriman dan beramal shaleh, dan saling menasehati dalam kebaikan dan dalam kesabaran”. Ini soal manajemen waktu saja, dan biasanya jika kita mau jujur dengan diri sendiri, hambatannya adalah malas. Padahal ketika kita benar-benar bisa memanfaatkan 24 jam dalam sehari itu, dengan izin Allah SWT kita bisa mengisi waktu-waktu tersebut untuk berbagai aktivitas bermanfaat.

Sederhana saja. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang. Kerjakan apa yang bermanfaat untuk diri sendiri, maupun orang lain. Kerjakan apa saja yang membuat value kita naik. Dengan nama Allah SWT yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, kita lakukan pekerjaan yang Insya Allah bisa bermanfaat, untuk dunia, dan akhirat kelak yang kekal, abadi. Dan aktivitas apa yang lebih baik, daripada aktivitas yang mendatangkan keuntungan di dunia DAN akhirat? Salam Generactive! ;)

*pinjam istilah dari Minimagz Inspire edisi 22 :p

About these ads

2 Responses to “Generactive!* (GeneratiOnActive)”

  1. beebob Says:

    duh…*merasa tertampar*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 944 other followers

%d bloggers like this: